Dua tanggal merah berturut-turut menggelitik saya untuk menyelipkan liburan ke daftar agenda. Lagi-lagi saya tertarik untuk mengunjungi tempat liburan “berbau” alam. Yah…cukup banyak alasan mengapa saya lebih suka mengunjungi alam yang masih asli buatan Sang Maha Agung, daripada tempat buatan manusia. Eitss..tapi bukan berarti saya tidak mau mengunjungi tempat buatan manusia loh ya!

Sebenarnya bukan alasan mengapa saya lebih menyukai liburan ke alam terbuka yang ingin saya ceritakan di sini, tapi perjalanan saya kali ini ke ujung tenggara Yogyakarta. Yup!! Kabupaten yang akhir-akhir ini sedang ramai dikunjungi turis lokal maupun mancanegara. Gunungkidul! Di sini kamu bisa menemukan tempat liburan menarik berbau alam yang bermacam-macam, mulai dari pantai, gua, air terjun bahkan gunung. Dan kali ini saya menjatuhkan pilihan untuk mengisi liburan saya ke pantai. Memang sudah tidak asing lagi kalau ke Gunungkidul dan berkunjung ke pantai, dan tidak ada salahnya juga saya berbagi cerita perjalanan saya ke salah satu pantai di Gunungkidul…Pantai Slili.

Perjalanan saya awali sekitar pukul 10.00 dari kecamatan Karangmojo (GK) menuju kecamatan Tepus di mana pantai itu berada. Saya sudah memperkirakan kalau perjalanan kali ini bakal ramai karena dua tanggal merah berturut-turut ini. Memasuki jalan Baron, perjalanan mulus saya mulai terganggu dengan beberapa kemacetan yang terjadi. Jelas saja, jalan yang tidak begitu lebar (menurut saya) dilewati banyak bus pariwisata. Jarak 1 km dari lampu merah sudah macet total. Wow…perkiraan saya meleset! Tak terkira ramainya bakal seperti ini, macet sudah panjang, yang “mengisi” jalan raya didominasi bus-bus pariwisata ber-plat nomor luar Yogyakarta semua. Piknik berjamaah, pikir saya. Hahaha…

Masih bergelut dengan kemacetan, saya tetap melanjutkan perjalanan. Untung sekali perjalanan saya kali ini dengan kendaraan yang praktis dan ekonomis. Praktis menyusup kanan kiri mobil dan ekonomis bahan bakar. Melewati jalan Baron yang ramai, saya membelokkan kendaraan saya ke jalan menuju pantai Siung dan kawan-kawannya. Saya pikir, kalau saya lewat arah Pantai Baron, selain lebih jauh juga akan lebih macet. Biasanya, saat saya melewati jalan ini, saya bisa melihat dan merasakan lekukan-lekukannya, tapi berbeda dengan kali ini. Belok atau lurus saja saya tidak bisa membedakan karena jalan sudah full dengan mobil dan bus. Apalagi dibumbui dengan sepeda motor yang menyusup ingin lebih cepat sampai ke tujuan dan menghindari ¬†kemacetan tapi malah sebaliknya, membuat kemacetan. Saya menyadari kalau jalan yang saya lewati ini berbelok atau sedikit melekuk saat antrian kendaraan yang lewat bergantian. Yah..seperti sistem buka tutup jalan pra dan pasca lebaran gitu. Jadi berasa masa-masa mudik hehehe…

Sampai di pertigaan ada petunjuk arah, saya ambil arah yang berlawanan dengan arah Pantai Siung. Sebenarnya tak jauh dari pertigaan itu sudah masuk gerbang TPR, oleh karena macet jadi berasa jauh. Untuk satu sepeda motor dengan dua orang dikenakan tiket Rp 20.000,- untuk sekali masuk. Lonjakan harga tiket yang cukup signifikan menurut saya. Setelah membayar tiket, saya melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi. Memasuki area pantai Slili ditandai dengan adanya tugu yang bertuliskan Slili Beach. Akhirnya saya sampai ditujuan. Pantai Slili memang seperti kebanyakan pantai-pantai yang lainnya, cuma di sini kita bisa lebih bebas memarkir kendaraan kita lebih dekat dengan keberadaan kita sehingga kita lebih mudah mengawasinya. Di sepanjang pantai banyak peginapan maupun cottage yang disewakan untuk pengunjung yang ingin bermalam atau hanya sekedar beristirahat. Di samping pantai juga berjejer beberapa gazebo sehingga pengunjung yang kepanasan bisa berteduh di sana, termasuk saya..hehe

Pantai Slili berada di sebelah timur Pantai Krakal. Dari Slili saya juga bisa melihat ramainya Pantai Krakal. Pantai Slili sendiri masih tidak begitu ramai, sehingga cocok sekali untuk saya yang merindukan suasana pantai tanpa hiruk pikuk keramaian. Berjalan dari ujung barat Slili ke ujung timur, saya menemukan sebuah karang yang sudah menjadi bukit. Saya pun mulai melangkahkah kaki menaiki bukit iku, dan wow…pemandangan dari atas benar-benar membuat saya menganga. Ini baru sebagian kecil karya Sang Maha Agung. Melihat luas laut, menyapu cakrawala membuat saya membayangkan bola raksasa tempat saya berpijak. Betapa hebat karya-Nya, sehingga air laut yang sebegitu banyaknya tidak tumpah dan tersebar merata.

12716431_10205598297824820_866556188939227692_o

Ini merupakan salah satu foto yang saya ambil dari atas bukit di Pantai Slili. Bagi kalian yang ingin mengistirahatkan pikiran kalian dan merefresh lagi, Pantai Slili bisa menjadi salah satu alternatif. Pantai cantik berpasir putih dengan ketenangan yang masih terjaga. Tertarik mengunjungi?