S O L A R……

Pasti sudah banyak orang yang mengetahui tentang solar baik secara umum maupun khusus.

Yap! Solar adalah bahan bakar mesin diesel. Solar biasa juga disebut light oil.Solar ini merupakan hasil dari pemanasan minyak bumi antara 250-340°C. Umumnya, solar mengandung belerang dengan kadar yang cukup tinggi. Kualitas minyak solar dinyatakan dengan bilangan setana. Angka setana adalah tolak ukur kemudahan menyala atau terbakarnya suatu bahan bakar di dalam mesin diesel. Penggunaan solar yang erat kaitannya dengan mesin diesel memang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan penggunaan bensin pada mesin bensin. Namun, setiap hal yang memiliki keunggulan tentu memiliki kekurangan juga pada sisi lainnya. Begitu juga dengan solar. Ah, masalah kekurangan solar, tentu masyarakat awam sudah benar-benar  paham. 

Namun, sebelum membahas keunggulan dan kekurangan solar, ada baiknya kita tahu kandungan yang terkandung dalam solar. Bahan bakar solar memiliki kandungan yang terdiri senyawa hidrokarbon dan non hidrokarbon. Senyawa hidrokarbon dapat ditemukan dalam bahan bakar diesel, sebut saja parafinik, naftenik, olefin dan aromatik. Sementara senyawa  non hidrokarbon terdiri atas senyawa yang mengandung unsur non logam seperti N, S, dan O.

Di sini saya bukan ingin menjelek-jelekkan solar, saya hanya ingin berpendapat tentang efek pembakaran solar di  kehidupan. Solar yang berpasangan dengan mesin diesel memang lebih unggul dalam hal hemat dibandingkan mesin bensin. Namun, efek pembakaran solar yang menghasilkan nitrogen oksida (NO) amat sangat mengganggu bagi orang lain. Sedikit curhat saja yaa…..waktu perjalanan saya dari Gunungkidul ke Yogyakarta, saya berada persis di belakang sebuah bis kecil tapi asapnya wooooowww….besar, hitam dan bau, tentunya efek kotor pada baju dan kendaraan. Galau juga akhirnya. Mau saya dahului tapi ancang-ancang harus di belakang bis dan kepulan hitam akan memandikan saya lagi. Fiuuhh….

Menurut saya, alangkah baiknya jika pengguna mesin diesel diganti saja dengan penggunaan mesin bensin, kan lebih tidak merugikan orang lain khususnya sesama pengguna jalan raya. Dan kalau memang tidak memungkinkan untuk mengganti mesin, ya upgrade lah mesin dieselnya, ganti bahan bakar yang lebih ramah lingkungan seperti Pertamina DEX.

Saya hanya berpendapat, dan semoga bapak-bapak pengguna mesin diesel bisa lebih bijaksana lagi…